The Power of Kuliner

The Power of Kuliner

The Power of Kuliner – Kali ini aku rai gedek ikut lomba nggambar (ndesain), babah wis. Biasane males melok —> wis tuwek (Sakjane yo gak tuwek, cuman umure wis akeh. I’m still very young).

Orang yang sudah berumur itu canggung kalau ikut lomba. Kalah menang pasti ada komentar miring. Kalau menang : “wajarlah menang, wis tuwek.” Tapi kalau kalah : “Tuwek kok kalah karo arek enom, mblendesss.”

Itu salah satu alasannya.

Baca juga : BIKIN DIET GAGAL, 5 MAKANAN INI SUMBANG KALORI YANG CUKUP BESAR!

Kali ini aku rai gedek ikut lomba nggambar (ndesain), babah wis. Biasane males melok —> wis tuwek (Sakjane yo gak tuwek, cuman umure wis akeh. I’m still very young).

Orang yang sudah berumur itu canggung kalau ikut lomba. Kalah menang pasti ada komentar miring. Kalau menang : “wajarlah menang, wis tuwek.” Tapi kalau kalah : “Tuwek kok kalah karo arek enom, mblendesss.”

Itu salah satu alasannya.

Alasan lainnya, aku agak nggak percaya dengan juri Endonesyah (dalam hal gambar menggambar). Sori yo ojok tersinggung. Terutama juri generasi tua.

Kebanyakan juri jompo itu sok akademis. Karya yang menang nggak museumable, nggak bagus dipajang di museum. Idenya memang bagus, tapi gambarnya payah, tidak “bernyawa”. Yang kulihat hanya ide, tapi karya seninya gersang.

Itu yang membuatku berpikir keras, iku lomba nggambar opo lomba ide se?

Kalau lomba desain gapura kampung nggak masalah gambarnya atau garisnya pating pletot, yang penting idenya keren, ukurannya jelas, benar dan mudah dipahami. Karena nantinya desain itu akan dieksekusi oleh para kuli bangunan.

Pokoke aku neq kalau lihat karya-karya pemenang yang jurinya sok akademis, selera seninya ikut-ikutan Barat (bangsa Nusantara punya selera yang berbeda). Ojok ngamuk yo. Seniman kok ngamukan, nek ngamukan dadi demonstran ae, atau jadi debt collector. Seniman harus tahan kritik, sepedas apapun.

Aku nggak ngomong karyaku bagus dan layak menang (bagus atau jelek itu relatif dan subyektif banget). Bukan itu poinnya. Angel njelasno rek, wis pikiren dewe.

Yang jelas menurutku lomba Good Day ini beda. Jurinya anak muda yang berprestasi di bidangnya. Karya-karya yang dimenangkan kemarin juga masuk rasa estetika seniku. Ide dan gambarnya keren abis, satu paket. Sangat museumable, nggak malu-maluin kalau dipajang di museum.