Teh Seharga Wine

Teh Seharga Wine

Seperti Wine, Semakin lama Disimpan Harganya Makin Mahal

Aroma herbs tercium samar saat daun teh phu erl dikeluarkan dari stoples kaca. Tekstur daun teh yang tumbuh di dataran Cina ini lebih kasar dibanding teh Indonesia. Cara penyajiannya pun tak sesederhana teh Indonesia. Teh berusia 20 tahun itu harus dibasuh air panas sebelum diseduh.

Pembasuhan ini, menurut Suwarni Widjaja, seorang master teh, dilakukan untuk meluruhkan debu yang terbawa selama proses penyimpanan.

“Teh bisa disimpan lama dan harganya juga (semakin) mahal. Iya, kayak wine,” ujar dia. Suwarni mempersilakan para tamu mencicipi teh phu erl hasil seduhan pertama dalam upacara minum teh kung fu cha, di Siang Ming Tea House, Jakarta, akhir Januari lalu.

Baca juga : 6 BAHAN MAKANAN TIDAK BOLEH DICUCI SEBELUM DIMASAK

Air berwarna keemasan tersebut begitu ringan mengalir dalam kerongkongan. Tidak meninggalkan efek lengket seperti teh yang biasa saya minum. Malah, muncul citarasa khas setelah menyesap seduhan berikutnya. “Seduhan terbaik itu ketiga dan keempat. Meminum Chinese tea ini pelan-pelan.

Beberapa kali seduh, dia baru keluar (rasanya),” ujar Suwarni. Ini kebalikan dengan teh merah Indonesia yang rasa khasnya akan keluar sejak seduhan pertama dan segera memudar pada seduhan berikutnya.

Selain ada teh Cina, Siang Ming Tea House memasukkan teh Jepang, Inggris, dan Indonesia ke susunan menu. Jika memesan Japenese Matcha, pelanggan akan dilayani dengan chado, upacara tradisional menyajikan teh ala Jepang.

Aroma matcha langsung merebak saat Suwarni mengocok campuran bubuk matcha dan air panas dengan chasen bambu. Sebelum diserahkan kepada saya, mangkuk matcha diputar dua kali hingga lukisan pada mangkuk menghadap depan. Suwarni meminta saya mengulangi gerakan memutar mangkuk dua kali sebelum menyeruputnya.

Mata saya refleks terpejam merasakan pahit di seluruh rongga mulut. Berbeda dengan teh phu erl yang ringan, Japenese Matcha memiliki rasa kuat dan bertekstur creamy.

Saya tutup Chado dengan suara seruput yang nyaring sebagai penghormatan kepada tuan rumah. “Daun muda yang kami pakai karena antioksidannya tinggi,” tutur Suwarni, yang juga mengajar chado di Pusat Kebudayaan Jepang.