Saya dan Ayam Geprek

Saya dan Ayam Geprek

Saya dan Ayam Geprek – Dalam beberapa tahun terakhir, banyak muncul produk kuliner kekinian di Indonesia. Salah satunya adalah ayam geprek.

Saya sendiri mulai berkenalan dengan makanan satu ini tahun 2011. Tepatnya, saat mulai kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) di daerah Babarsari. Waktu itu, ayam geprek memang menjadi salah satu menu terlaris di kantin kampus.

Baca juga : ALU-ALU, JAJANAN JADUL COCOK BUAT SARAPAN

Saya sendiri cukup tertarik dengan menu ini, karena selain harganya yang relatif terjangkau, ayam geprek menawarkan rasa pedas gurih, yang tergolong “tak biasa” di Yogyakarta, daerah yang menu makanannya banyak didominasi rasa manis, termasuk sambal dan sayur asem, yang lazimnya bukan makanan “manis”.  Yang paling penting, makanan ini “jujur”, proses pengolahan dan penyajian sesuai namanya.

Satu lagi, jika memesan menu ini, saya bisa mengatur tingkat kepedasannya, dengan menyebut jumlah cabai rawit merah yang ingin ditambahkan ke ayam goreng tepung saat digeprek menggunakan ulekan dari batu bersama bawang putih di cobek.

Jadi ayam goreng tersebut akan menyatu dengan sambal bawang, dengan bentuk agak pipih dan pecah, berbeda dari sebelumnya. Setelah jadi, ayam geprek ini akan disajikan bersama sepiring nasi.

Sebagai informasi, “geprek” sendiri merupakan kosakata bahasa Jawa, yang dalam bahasa Indonesia berarti “dipukul sampai pipih dan pecah“.

Di Yogyakarta sendiri, ada banyak rumah makan ayam geprek, yang tersebar di berbagai tempat. Tapi, ada setidaknya tiga daerah, yang dianggap sebagai “sentra ayam geprek”, yakni Jalan Kaliurang (sekitar Universitas Gajah Mada), Jalan Gejayan, dan kawasan Babarsari-Seturan (dekat Bandara Adisucipto).

Biasanya, saya menambahkan lima cabai rawit merah, untuk mengimbangi rasa asin ayam goreng tepung. Tapi, saya pernah menambah lebih banyak cabai rawit merah, saat situasi sedang kurang baik atau mengecewakan.

Momen seperti ini terjadi, misalnya saat saya sedang jengkel, karena dibuat “mati kutu” saat ujian. Saat itu, segera setelah ujian selesai, saya segera menuju kantin, dan memesan ayam geprek dengan tambahan selusin cabai rawit merah.

Mungkin, ini terdengar agak konyol, tapi saya bersyukur, karena tambahan selusin cabai rawit merah itu sukses mengalihkan kekesalan jadi kelaparan. Ajaibnya, segera setelah selesai makan, emosi saya langsung reda.

Setelah lulus kuliah dan belakangan tinggal di ibukota, saya banyak bertemu kembali dengan menu “ayam geprek”.  Hanya saja, cara penyajiannya cukup berbeda dengan yang sebelumnya biasa saya temui.