Perkedel Pertamaku

Perkedel Pertamaku

Perkedel Pertamaku – Mungkin artikel ini tidak penting-penting banget.  Tetapi untuk penulis ini penting banget, dan percayalah untuk mereka yang senasib dengan penulis pun akan menganggap ini penting.  Buktinya, mama penulis saja sempat meragukan, apa iya bisa?  Heheh…duh…ngomongin apa sih penulis?  Kok, ngebulet nggak karu-karuan.

Baca juga : Di Tengah Pandemi Edho Zell Malah Buka Cabang Nyapii ke 15 di Bintaro

Kilas balik ke masa lalu ketika berstatus mahasiwi di negeri orang, Melbourne tepatnya.  Pernah dalam salah satu artikel penulis mengatakan, bahwa salah satu yang bikin kangen Indonesia yah makanannya.  Selain sambal, perkedel menjadi makanan yang dirindukan penulis ketika itu.

Kerinduan nyaris terpenuhi ketika salah seorang sahabat penulis, Herry menyanggupi untuk membuat kroket. Lha, kok kroket?  Hahah…ini karena Herry kangen kroket!  Katanya, sudahlah kroket dan perkedel itu mirip-mirip, dari kentang juga keduanya.  Mau nggak aku bikinin?  Begitu ancaman Herry ketika itu.

Sekedar info saja, Herry ini mahasiswa Indonesia yang meski cowok tapi doyan masak.  Itu sebabnya, selama bersekolah disana nyambi bekerja jadi cook helper.  Kesaktiannya memasak tidak diragukan lagi deh.

Singkat cerita, disepakati acara masak memasak diadakan saat weekend di flat salah seorang sahabat kami.  Sedangkan perkakas dapur jadi tugasku.  Maklum, urusan dapur aku terbilang lengkap, bahkan cobek saja aku punya.  Ini semua karena kepepet kangen masakan Indonesia, membuat aku berjibaku mencoba masak.

Eksekusipun dimulai, diawali dengan mengukus kentang dan melumatkannya.  Nah, urusan ini menjadi bagianku.  Menurut Herry, karena aku yang kebelet mau perkedel yang diplesetin jadi kroket sekarang.  Maka porsi kerjaku harus lebih banyak.  Sedangkan sahabatku, Reiko si pemilik flat hanya kebagian cuci doang.  Hikss…agak curang, tapi demi rinduku masakan Indonesia, saat itu patuh saja.

Wokeh, semua terlihat berjalan sempurna.  Tinggal eksekusi menggoreng kroketnya.  Abrakadabra….wala…byarr…kentangnya bubar jalan pecah tak berbentuk!  Ngakak kami bertiga, setelah sebelumnya terpana melihat serpihan kecil kentang mengapung diatas minyak panas.

Dibuang?  Heheh..enggak dong.  Nyadar betul ini bukan kroket, dan apalagi perkedel, dengan sukacita kami menikmatinya.  Ditemani teh panas di dinginnya Melbourne ketika itu kami menikmati kroket hancur.

Sembari kebingungan kok hancur, salahnya dimana yah?  Sementara Chef Herry membuat pengakuan polos, dirinya belum pernah bikin kroket.  Ini baru eksekusi pertama karena idem dengan aku kebelet kangen masakan Indo.  Hiks…

Nah, kembali di ceritaku sore ini yang berhasil membuat perkedel.  Mengingatkanku kepada Melbourne dan dua sahabatku.  Berandai-andai bisa sombong, “tuh, aku bisa buat perkedel loh”.  Hahah…

Berbagi rahasia kepada pembaca, ternyata kunci membuat perkedel itu adalah kentangnya digoreng dan lalu dilumatkan.  Jadi lebih baik tidak dikukus, karena kalau digoreng kandungan air pada kentang jadi hilang.  Air inilah penyebabnya perkedel suka pecah ketika digoreng, hal yang sama berlaku juga untuk kroket.  Khan mereka sepupuan.  Hahah…

Selain itu rahasia lainnya adalah mencampurkan larutan kaldu, mentega dan terigu, mirip dengan resep adonan kue sus.  Tetapi kali ini kita campurkan pada kentang yang sudah dihancurkan setelah digoreng tadi itu.  Lalu masukan goreng bawang, potongan sledri, 2 butir telur, garam dan merica.  Bentuk dan siap digoreng deh.  Tentunya setelah dicelupkan ke kocokan telur yah.

Wokeh deh, sedikit berbagi sukacitaku yang berhasil membuat perkedel.  Berbekal 1 kilo kentang, jadi deh 30 potong perkedel.  Ludes, licin dinikmati seisi rumah, termasuk mama yang sempat meragukan kesaktian aku.  Hehehe…mantap!

Berharap artikel ini bisa dibaca oleh dua sahabatku Herry dan Reiko.  Miss you both gaes.