Leluhur Presto Ikan Mujair Danau Sentani Papua

Leluhur Presto Ikan Mujair Danau Sentani Papua

Leluhur Presto Ikan Mujair Danau Sentani Papua – Warga yang tinggal di Kampung Abar, pesisir Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua memiliki resep turun temurun dalam mengolah menu ikan Mujair duri lunak atau dalam istilah kekinian dikenal dengan masakan ikan presto.

Baca juga : HIDUP BAHAGIA DI MASA PANDEMI

Resep turun temurun yang diwariskan dari leluhur sangat sederhana, hanya dengan garam dan batang daun bete, sejenis keladi dari tanaman umbi-umbian.

“Hal yang khusus dalam masak ikan Mujair duri lunak adalah menggunakan wadah gerabah dari tanah liat yang juga dihasilkan dari tangan-tangan masyarakat di Kampung Abar Sentani,” kata Mama Barbalina Ebalkoi atau biasa disapa Mama Barbie, ditemui BumiPapua, Sabtu (10/10).

Mama Barbie memberi resep jitu cara masak ikan Mujair ala Kampung Abar Sentani yaitu setelah ikan Mujair dibersihkan, disiapkan gerabah, lalu gerabah ditaburi garam, setelah itu ikan Mujair ditaruh dalam gerabah bersama sayur batang daun bete atau batang daun sejenis keladi dan diberi air.

“Untuk mendapatkan ikan Mujair duri lunak dengan resep leluhur, dimasak di dalam wadah gerabah dari tanah liat selama 2 jam hingga bumbu meresap dan duri ikan menjadi lunak. Setelah matang, lalu disantap dengan papeda,” kata Mama Barbie.

Mama Barbie menyebutkan batang daun bete menjadikan masakan berkalori rendah dan kandungan serat yang tinggi. Batang daun bete berfungsi sebagai pelengkap bergizi untuk diet.

Jika tak tersedia daun bete, bisa juga diganti dengan daun gedi. Selain enak dikonsumsi sebagai sayur, daun gedi mengandung polifenol yang terbukti dapat menurunkan kolesterol.

“Ini juga bentuk kearifan lokal masyarakat Abar dalam memanfaatkan tumbuhan di sekitarnya. Seperti diketahui ikan mujair berlemak tinggi, jadi untuk menyeimbangkannya digunakan batang daun bete atau daun gedi,” jelasnya.

Ikan Acub Zainal

Secara tradisional ikan yang dimasak dengan gerabah adalah ikan gabus asli Danau Sentani.

Sedangkan menu ikan Mujair di Danau Sentani mulai dikenal sejak tahun 1973, saat Gubernur Irian Jaya dijabat oleh Acub Zaenal.

Kala itu, Gubernur Acub menyebarkan bibit ikan Mujair yang didatangkan dari Sukabumi untuk masyarakat Sentani.

“Masyarakat setempat menyebut ikan Mujair yang ditangkap dan konsumsi dengan sebutan ikan Mujair Acub,” Mama Barbie mengenang zaman itu.

Ikan Mujair termasuk ikan yang cepat beradaptasi dengan lingkungan baru dan cepat berkembangbiak. Sehingga sejak 1973, mampu menggeser ikan gabus Danau Sentani sebagai menu ikan berkuah kuning dalam sajian makan papeda.

Sejak saat itulah Danau Sentani dikuasai oleh ikan Mujair yang banyak dipelihara oleh warga setempat dengan cara membuat tambak di sekitar rumah warga.

Hingga kini, daerah Sentani dikenal dengan masakan khas berbahan dasar ikan Mujair. Bahkan hampir sebagian besar rumah makan di Sentanti menyajikan menu ikan Mujair sebagai menu andalannya.