Kisah Pesugihan yang Pakai Lapak Bekas Kuburan

Kisah Pesugihan yang Pakai Lapak Bekas Kuburan

Kisah Pesugihan yang Pakai Lapak Bekas Kuburan – Desa itu seperti dilanda kesunyian bertahun-tahun. Para penduduknya kebanyakan hanyalah seorang petani. Namun, di tengah mereka yang biasa akrab dengan ladang dan sawah itu, Pak Sandi, sebut saja begitu, memilih melakoni pekerjaan lain. Telah beberapa tahun ini, ia mendirikan warung angkringan di salah satu jalan pinggir desa.

Baca juga : Butter Tradisional Prancis dengan Teknik Malaxage

Namun, pilihan pekerjaan itu pun sejatinya juga cukup tak masuk akal. Di desa yang kebanyakan penduduknya miskin dan kemungkinan besar tak punya kegemaran untuk makan di luar rumah, bagaimana cara warung angkringan itu bisa ramai didatangi pembeli? Mengharap pembeli datang dari luar desa itu pun rasanya juga cukup berlebihan, lantaran penduduk di sana jarang punya bisnis dan urusan dengan orang dari luar daerah.

Namun, sekali lagi, Pak Sandi dengan nekat melakoni pekerjaan itu. Dan, tak disangka, dibandingkan dengan penduduk-penduduk lain, ia justru punya kemampuan ekonomi di atas rata-rata.

Setiap hari, banyak orang asing mendatangi warung itu. Namun, kebanyakan penduduk tak ada yang mengenal mereka. Wajah-wajahnya tampak tak familiar sama sekali. Sementara di sisi lain, hampir tak ada satu pun penduduk yang datang dan makan di sana.

Pada satu malam, tanpa disengaja, aku berjalan melewati warung angkringan itu. Pulang dari mengaji, di malam yang cukup sunyi sehingga membikin bulu kudukku merinding, kulihat angkringan Pak Sandi masih dipenuhi orang-orang yang sedang riuh-rendah mengobrol.

Dan lantaran sedang mengantongi uang yang sekadar cukup untuk membeli segelas kopi, sekonyong-konyong kudatangi warung itu, berniat melihat bagaimana keadaan di dalam sana.
Dan betapa kagetnya aku.

Di dalam angkringan itu, memang betul kulihat banyak orang sedang duduk berkumpul. Namun, orang-orang itu lebih dari apa yang kukira selama ini sebagai orang asing: wajah mereka tampak pucat dengan baju yang hampir seluruhnya putih. Tak seperti sebuah tempat yang seyogyanya digunakan untuk makan, angkringan itu lebih tampak seperti sebuah kuburan.

Melihat pemandangan mengerikan itu, kuurungkan niatku membeli segelas kopi. Sambil tertatih-tatih, aku berlari menuju rumah kyai tempatku mengaji, berniat menceritakan apa yang baru kulihat di sana.

“Apa yang baru saja kamu lihat itu mayat semua.” Kata kyai itu.

“Maksudnya, Kyai?”

“Tempat warung angkringan itu didirikan adalah bekas kuburan. Para pembeli yang biasa kamu lihat adalah mayat.”

Mendengar penjelasan kyai, aku tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Kusimpulkan, kemampuan ekonomi lumayan mencolok yang didapat Pak Sandi selama ini ialah hasil dari pesugihan. Dari mayat-mayat yang rajin mendatangi angkringan itu, Pak Sandi menghidupi dirinya dan keluarga.

Betapa mengerikannya.

Tulisan ini merupakan rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.