Jjampong, Kuliner Korea Selatan yang Mirip Mie Aceh

Jjampong, Kuliner Korea Selatan yang Mirip Mie Aceh

Jjampong, Kuliner Korea Selatan yang Mirip Mie AcehSaat berada di luar negeri, terkadang rindu dengan masakan kampung halaman. Begitupula yang acehkini rasakan saat melihat beberapa iklan atau drama yang memperlihatkan sajian kuliner.

Beberapa teman Korea Selatan yang pernah berkunjung ke Aceh beberapa saat lalu sering mengatakan, saat mereka makan mie Aceh ada satu masakan Korea yang telintas di benak mereka. Bentuknya yang hampir sama, disantap saat panas, pedas dan merah.

Baca juga : SAJIAN MI DI SEJUMLAH NEGARA

“Wah mirip dengan Jjampong,” kata Lee Jimin kala itu saat melihat hidangan mie Aceh yang Ia santap di sela-sela liburannya di Banda Aceh. “Tapi di sana nggak ada versi kering, kerupuk dan cabai kecil ini,” tambahnya lagi.

Tidak hanya Jimin, Kim Song Hwa juga mengungkap hal yang sama. Ia berlibur ke Banda Aceh dua tahun lalu. “Kadang-kadang kalau rindu mie seperti yang kami makan saat liburan dulu, sesekali makan Jjampong, tapi kopi Aceh juga buat kangen,” katanya saat acehkini bertemu dengannya di Seoul, Korea Selatan,

Jjampong buat pencinta drama Korea pastinya tidak asing. Biasanya disandingkan dalam “perang “ makan bersama Jjajangmyeon. Mereka yang memilih Jjampong biasanya disebut tim merah karena kuahnya yang merah dan pedas.

Makanan ini biasanya juga disebut mie seafood, karena aneka makanan laut yang tersaji dalam satu porsinya. Mulai dari udang, kerang, cumi dan gurita. Bahan lainnya bawang bombay, bawang putih, timun Korea, wortel dan kembang kol. Warna merahnya datang dari bubuk cabai, dan enak disantap saat panas.

Porsi makanan ini lumayan banyak di dalam mangkuk. Buat yang terbiasa makan sedikit bisa memesan satu mangkok untuk dimakan berdua. Jjampong merupakan makanan percampuran budaya antara Korea dan Chinese. Tak heran banyak dijual di rumah makan tionghoa. Bagi muslim juga harus bertanya sebelum memesan, karena terkadang ada tambahan bahan yang membuat makanan ini tidak halal.

Nama Jjampong diberikan para tentara Jepang saat pendudukan mereka di Korea. Nama ini diberikan karena mengingatkan mereka pada makanan campuran Jepang dan Chinese terkenal di Nagasaki bernama Chanpon. Walaupun makanan fujian style di sana berbeda dengan bahan dasar kuahnya. Jjampong sendiri artinya campur.

Nama ini akhirnya diadaptasi untuk kuliner satu ini. Penambahan seafood rasa padas dengan bubuk cabai dan minyak cabai baru dimulai pada tahun 1960-an, sehingga lebih cocok dengan lidah orang Korea. Namun ada juga yang tidak pedas sama sekali. Mie pedas ini ini biasa disebut haemul Jjampong atau mie seafood pedas.

Beberapa waktu lalu saat berjalan-jalan ke kawasan Pulau Nami, acehkini menemukan salah satu restoran halal yang menyediakan mie pedas ini. Pulau Nami merupakan salah satu objek wisata populer di Korea Selatan bagi turis asing, termasuk salah satu wisata halal di Korea. Beberapa restoran halal ada di kawasan Pulau Nami dan Musala.

Asian Restoran di pulau Nami mendapatkan sertifikat halal dari KMF atau Korean Muslim Fondation. Makan Jjampong di sini rasanya juga enak dengan porsi yang banyak. Menu mie seafood ini dibandrol dengan harga 13 ribu won ini dipenuhi udang, kerang, cumi dan gurita. Ingin lebih pedas atau tidak suka pedas tinggal sampaikan pada pelayannya. Selain itu di sini juga ada beberapa menu makanan Indonesia seperti nasi goreng.

Belum bisa liburan sekarang? Simpan dulu lokasi dan menu favoritnya, sampai bisa berwisata kondisi sudah membaik, setelah virus corona tak ada lagi. Sekarang, persiapkan budget yang sesuai untuk liburan lebih nyaman.