Idealisme Protokol Kesehatan

Idealisme Protokol Kesehatan

Idealisme Protokol Kesehatan – “Pokoknya nanti sampai Kota Banjar, mampir Warung Jeruk.” Bapak mertua saya sudah mewanti-wanti, bahkan sebelum saya mandi dan bersiap pergi.

Baca juga : Suka Makan Onde-onde, Apa Kamu Sudah Tahu Maknanya?

Pagi itu, memang sudah direncanakan untuk mengantarkan Bapak dan Ibu mertua pulang ke kampung halaman. Tapi karena hari sebelumnya istri bersikeras mengajak untuk pergi keluar bersama, alhasil pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pergi mengantar pulang harus terbengkalai. Konsekuensinya memang harus memundurkan sedikit jam kepulangan, demi menyelesaikan sedikit pekerjaan.

Sambil siap siap, saya memperhatikan keinginan Bapak mertua, yaitu, ketika dalam perjalanan menuju Kota Pelajar ini, beliau berceloteh ‘kalau saja lewat sini pas dengan jam makan siang, pasti sudah makan disini’, sambil menunjuk sebuah Rumah Makan dengan patung Jeruk besar di depannya, Warung Jeruk.

Pada saat itu, memang kita melakukan perjalanan pagi dari Kota Tasik, sehingga ketika sampai di Rumah Makan tersebut, matahari belum tepat ada diatas ubun kepala, dan perut pun masih menyisakan menu sarapan pagi. Dan, sudah sangat dipastikan, ketika pulang nanti, pasti Bapak mertua masih berkeinginan untuk mampir dan menikmati masakan dari Warung Jeruk tersebut.

Bukannya saya tidak ingin mengindahkan keinginan Bapak mertua, hanya saja dengan kondisi seperti ini, melakukan bepergian saja sudah beresiko, apalagi singgah ke berbagai tempat umum.

“Gimana kalau kita makan dulu disini mah, jadi nanti tinggal jalan aja terus sampe rumah.” Saya memberanikan diri memberikan masukan.

“Iya, sekarang makan disini, tapi nanti di Warung Jeruk makan lagi.” Bapak mertua dengan cepat merespon masukan saya, tanpa memperhatikan maksud dari masukan saya adalah untuk kebaikan semua. Yang penting makan di Warung Jeruk, hanya itu yang ada dibenaknya.

Sebagai seorang supir yang memang sudah menjadi keseharian hidup dijalan, menghitung alokasi waktu perjalanan tidaklah sulit. Saya mencoba mengkalkulasikan perjalanan pulang ini, agar sekiranya sampai di Kota Banjar, perut masih dalam kondisi terisi dan bisa melewati Warung Jeruk tanpa singgah. Dengan sedikit hitung-hitungan waktu perjalanan saat keberangkatan, dan bantuan dari ‘Mbah Google’, saya memutuskan untuk berangkat tepat pukul 12.30

Pekerjaan dengan kebut segera diselesaikan, bersiap-siap, dan mengajak semua untuk makan siang dan sholat terlebih dahulu. Setelah semua selesai, waktu di jam dinding ruang tengah sudah menunjukan pukul 12.43 atau 12.28 pada layar handphone, dan semua sudah bersiap untuk melakukan perjalanan pulang.