Benarkah Daging Merah Olahan Memicu Kanker?

Benarkah Daging Merah Olahan Memicu Kanker?

Benarkah Daging Merah Olahan Memicu Kanker? – Sebuah artikel yang tayang di laman Kompas.com pada Agustus 2019 dengan judul “Banyak Makan Daging Merah Olahan Risiko Kanker” menyebutkan bahwa jenis daging merah olahan seperti sosis, bacon, kornet, salami, dan daging burger dapat menyebabkan kanker.

Baca juga : MITOS TENTANG MAKANAN DAN DIET SEHAT

Bahkan penulis artikel tersebut turut memberikan beberapa bukti, seperti studi yang dipublikasikan pada Journal of The Academy of Nutrition and Dietetics mengenai Tren Konsumsi Daging Olahan,

Daging Merah (Non-Olahan), Unggas, dan Ikan di Amerika Serikat pada Tahun 1999-2016, dalam survei tersebut ditemukan bahwa konsumsi daging olahan meningkat dari 182 gram/minggu menjadi 187 gram/minggu sedangkan konsumsi daging merah (non-olahan) menurun dari 340 gram/minggu menjadi 284 gram/minggu.

Dari uraian tersebut penulis lalu mengaitkan dengan pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa daging olahan termasuk dalam kelompok nomor satu karsinogen.

Berdasarkan Subianto (2018), semua organisme memulai kehidupannya dari satu sel tunggal yang terus-menerus membelah. Siklus sel merupakan untaian kejadian dimana sel akan menduplikasi gen, sintesis komponen sel, dan pembelahan sel menjadi dua. Proses-proses ini dilakukan di bawah kontrol genetik, sel normal akan menjadi sel kanker akibat hilangnya kontrol dalam siklus sel. Pada sel kanker terjadi mutasi gen yang menyebabkan tidak adanya sistem kontrol yang mencegah sel tumbuh berlebih dan menyusup ke jaringan lain, akibatnya sel bermutasi lebih banyak dan lebih cepat dibandingkan sel normal.

Banyak faktor yang membuat sel normal menjadi sel kanker, di antaranya infeksi virus. Virus akan memasukkan materi genetiknya ke dalam DNA manusia sehingga terbentuk gen baru yang akan mengganggu pertumbuhan dan pembelahan sel (Chabner BA, 2013).

Selain itu radiasi, obat-obatan, dan kandungan dalam diet juga mempengaruhi terjadinya kanker. Chabner BA (2013) menyebutkan bahwa diet tinggi lemak akan meningkatkan risiko kanker kolon, payudara, dan prostat. Sedangkan diet tinggi alkohol meningkatkan risiko kanker kepala, leher, dan esofagus, serta diet dengan makanan yang diawetkan atau daging yang dimasak dengan temperatur tinggi akan meningkatkan risiko kanker lambung.

Sebuah studi lain yang dipublikasikan oleh Annals of Internal Medicine berjudul Reduction of Red and Processed Meat Intake and Cancer Mortality and Incidence (A Systematic Review and Meta-analysis of Cohort Studies) menyebutkan bahwa efek konsumsi daging merah dan olahan pada mortalitas dan insiden terjadinya kanker sangat kecil.

Studi yang dilakukan oleh Mi Ah Han, MD, PhD dkk dilatarbelakangi oleh tingginya angka kejadian kanker di seluruh dunia. Banyak penelitian primer yang menyebutkan bahwa konsumsi daging merah dan olahan dapat meningkatkan mortalitas dan insiden kanker, bahkan Badan Riset Kanker mengklasifikasikan konsumsi daging olahan sebagai kelompok pertama karsinogen berdasarkan kejadian kanker kolorektal, sedangkan konsumsi daging merah diklasifikasikan dalam kelompok 2A karsinogen berdasarkan kejadian kanker kolorektal, pankreas, dan prostat. Lembaga Riset Kanker Dunia dan Institut Riset Kanker Amerika membatasi konsumsi daging merah tidak lebih dari 3 porsi per minggu (< 500 gram) dan mengonsumsi daging olahan dengan jumlah yang sangat sedikit.

Banyak penelitian sejenis yang mendukung hubungan antara konsumsi daging merah dan olahan dengan mortalitas dan kejadian kanker, namun hanya difokuskan pada jenis kanker tertentu dan belum menyediakan gambaran secara umum. Beberapa penelitian bahkan hanya melakukan analisis paparan yang tergolong ekstrim dan tidak melakukan analisis secara keseluruhan menggunakan studi cohort. Hanya sedikit penelitian yang memberikan bukti hubungan antara konsumsi daging merah dan olahan terhadap kejadian kanker.

Penelitian yang dilakukan oleh Mi Ah Han, MD, PhD dkk ini bertujuan untuk mengetahui efek yang ditimbulkan akibat konsumsi daging merah dan olahan terhadap kejadian kanker, penelitian ini juga merupakan bagian dari NutriRECS (Nutritional Recommendations and Accessible Evidence Summaries Composed of Systematic Reviews) yang dikhususkan untuk mengembangkan rekomendasi asupan gizi.

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kohort dengan lebih dari 1000 peserta berusia 18 tahun atau lebih. Untuk melihat tingkat kepastian bukti yang ditemukan digunakan GRADE (Grading of Recommendations Assessment, Development and Evaluation). Hasil yang ditemukan adalah dari 22.882 artikel yang diidentifikasi melalui database pencarian dan sumber lainnya, 9724 di antaranya adalah duplikat. Penelitian tersebut menilai teks lengkap dari 1505 studi untuk kelayakan, di antaranya 118 artikel melaporkan 56 kohort dengan 6,1 juta peserta memenuhi syarat. Bukti untuk dosis-respons meta-analisis berasal dari 73 artikel (40 kohort), dari 18 artikel (17 kelompok) membahas konsumsi daging merah yang tidak diproses, 56 artikel (31 kohort) daging merah olahan, dan 60 artikel (30 kohort) campuran daging merah yang tidak diproses dan diproses.

Peneliti lalu melakukan studi lebih lanjut dengan melakukan pengurangan asupan daging merah yang tidak diproses, hasil dari pengurangan asupan ini ternyata tidak signifikan secara statistik terkait dengan insiden kanker secara keseluruhan.