Adaptasi di Negeri Orang Gampang-gampang Susah

Adaptasi di Negeri Orang Gampang-gampang Susah

Adaptasi di Negeri Orang Gampang-gampang Susah – Jangankan di negeri orang, di negeri sendiri saja jika tidak betah, yang ada hanya ingin pulang. Di Indonesia ini masih enak. Di mana-mana, dari 17.000 pulau yang ada, semua orang boleh dibilang ngerti Bahasa Indonesia.

Baca juga : MASAKAN DAGING KAMBING UNTUK IDUL ADHA!

Kata Mr. Navid, seorang warga negara Pakistan yang sudah tinggal setahun di Malang, berat menyesuaikan diri terkait makanan. Dia masih belum bisa meninggalkan kebiasaan makan Roti, makanan khas Pakistan.

Nasi, katanya, bikin dirinya cepat lapar. Paling sepekan sekali baru bisa makan nasi. Bakso juga belum terbiasa. Padahal Bakso makanan favorit orang Malang. Ada sekitar 10 orang warga Pakistan dan India yang ada di kota Malang.

Kapan itu kami juga kedatangan tamu asal Filipina. Orang Filipina masih dekat dengan budaya Melayu. Kecuali bahasa, mereka tidak mengalami kesulitan menyesuaikan diri di Indonsia. Makanan hampir sama. Hanya saja mereka kurang suka pedas.

Sementara tamu kami dari Timur Tengah waktu itu enjoy saja dengan aneka makanan yang ada di Indonesia. Kalau soal iklim, rata-rata orang asing sangat menyukai suasana di Indonesia.

Demikian halnya orang-orang Barat. Yang menjadi kendala biasanya sedikit tetang makanan. Bahasa mereka tidak bermasalah. Iklim atau udara, juga okey. Hubungan sosial masyarakat tidak ada hambatan.

Lantas bagaimana kiatnya agar kita bisa cepat menyesaikan diri di negeri orang? Menurut saya, ada empat faktor terbesar yang berpengaruh terhadap cepat tidaknya kita beradaptasi dengan lingkungan sekitar apabila tinggal dan bekerja di daerah lain atau negeri orang.

Bahasa

Saya tinggal di Pulau Jawa ini sudah lebih dari satu setengah tahun. Walaupun lingkungan sekitar semuanya orang Jawa, termasuk tempat saya tinggal, karena kami gunakan Bahasa Indonesia sehari-hari, saya tidak bisa Bahasa Jawa. Hanya satu dua kata yang saya kenal. Kalau mendengarkan, sedikit-sedikit saya paham.

Saya tahu bahwa bahasa ini sangat besar peranannya. Senior saya yang sudah lama tinggal di Timur Tengah, bukan hanya bisa berbahasa Inggris, tetapi juga Bahasa Arab, Hindi serta Urdu mampu berkomunikasi. Manfaatnya sangat besar. Katanya kalau shopping ke orang-orang yang penjualnya asal India, Pakistan atau Arab, dengan menggunakan bahasa mereka, akan dapat special discount.

Barangkali prinsip yang sama berlaku bagi saya di Pulau Jawa ini. Persoalannya, saya tidak biasa belanja ke pasar. Kalaupun membeli sesuatu, biasanya harga pas. Jadi, perbendaharaan kata dalam Bahasa Jawa yang saya miliki tidak pernah meningkat.