9 Keju yang Aman Dikonsumsi Oleh Para Laktosa Intoleran

9 Keju yang Aman Dikonsumsi Oleh Para Laktosa Intoleran

9 Keju yang Aman Dikonsumsi Oleh Para Laktosa Intoleran – Para penderita laktosa intoleran, baik orang dewasa atau anak-anak, memang tak mudah menemukan makanan yang aman bagi perutnya. Segala sajian turunan susu biasanya akan menimbulkan rasa mual sehingga berujung kram perut, muntah-muntah, hingga diare. Hal ini terjadi karena adanya ketidakmampuan lambung dalam mencerna kandungan gula (laktosa) yang terdapat dalam produk berbasis susu secara sempurna akibat kurangnya enzim bernama laktase. Merepotkan? Jelas. Karena penderitanya jadi tak bisa menikmati ragam hidangan yang disuka serta harus mengganti konsumsi susu sapi dengan susu kacang yang tak semua orang bisa menikmati rasa dan teksturnya.

Baca juga : Tradisi Mengudap Papeda Diwadahi Gerabah

Nah, bagaimana dengan keju? Salah satu bahan pelengkap dan pelezat hampir tiap masakan ini nampak jadi satu yang paling sulit ditolak godaannya. Namun karena mengandung susu sapi, para pemilik laktosa intoleran sering melewatinya. Well, jangan sedih dulu karena Herworld punya jalan keluar terbaik untukmu. Sama-sama keju, namun sembilan jenis keju berikut punya kandungan laktosa yang amat rendah sehingga lebih aman untuk dikonsumsi. Apa sajakah itu? Berikut daftarnya.

1. Cheddar

Ada banyak jenis keju cheddar yang tersedia di pasaran. Mulai dari mild, sharp, premium, dan lain sebagainya. Bedanya? Adalah di proses aging yang dilakukan di masing-masing varian. Ketika mild cheddar hanya memerlukan waktu dua hingga tiga bulan ‘masa penuaan’, maka premium cheddar butuh lebih banyak waktu yaitu sekitar dua hingga lima tahun. Semakin lama disimpan dan difermentasi, laktosa dalam keju cheddar akan semakin tinggi meski sama-sama masih rendah. Mild dengan 0.0 – 2.1% laktosa dan sharp serta premium dengan 2.1%.

2. Parmesan

Keju keras nan kering khas Italia yang parutannya sering dijadikan taburan saat makan pasta ini pada umumnya melewati proses penuaan antara 12 hingga 36 bulan. Kandungan laktosanya pun berkisar antara 2.9 hingga 3.7% jika sudah diparut dan 0.0% – 3.2% saat masih dalam keadaan utuh.

3. Swiss 

Swiss cheese mungkin tak terlalu familiar di telinga orang Indonesia. Namun keju yang malah banyak diproduksi di Amerika untuk diimpor ke seluruh dunia ini punya rasa ringan yang jika dimakan bersama dengan crackers, roti, kacang-kacangan, serta buah-buahan, maka cita rasanya baru akan keluar di dalam mulut. Terbilang hambar saat disantap sendirian dan punya tekstur yang cenderung liat, keju yang biasanya selalu tersedia di dalam cheese platter ini memang harus dinikmati bersama makanan lainnya. Emmental dan Gruyère adalah dua diantaranya. Kandungan laktosanya? Tenang, hanya 0.0% – 3.4% untuk varian yang biasa dan 0.0% – 2.1% untuk Swiss cheese yang dipasteurisasi.

4. Brie

Salah satu keju tradisional Prancis favorit Herworld yang punya tekstur lembut serta creamy seperti mentega ini biasanya dibuat dari susu sapi atau kambing. Meski terdengar fatty, namun Brie hanya mengandung 0.0% – 2.0% laktosa yang aman bgi para lactose intolerrants. Makanlah bersama dengan smoked salmon yang ditangkup di dalam bagel bersama dengan sedikit perasan lemon, sedikit vegan mayonaisse, dan irisan daun chive. Nikmatnya tiada tara!

5. Feta

Keju berwarna putih asal Yunani yang terbuat dari susu kambing murni atau kombinasi antara susu domba dan kambing ini punya tekstur paling lain dari yang lain. Saat dilihat, ia tampak seperti bongkahan lemak atau kepala susu yang sering muncul saat direbus. Saat dimakan, rasanya sangat elegan karena begitu lembut namun kental di dalam mulut dalam waktu yang bersamaan. Biteable, thick, rich, yet so light and enjoyable. Inilah sebabnya ia sering dimakan bersama dengan salad (Greek salad), kacang-kacangan, bahkan sebagai cemilan bersama buah sekaligus minyak zaitun yang dicampur dengan tomat ceri. Namun meski sangat lezat dan terbilang rendah laktosa, feta segar yang baru jadi punya lebih tinggi kandungan laktosa dibandingkan hard cheeses. So, baiknya dicoba sedikit dulu, ya. Perutmu kuat atau tidak. Karena jika tidak, maka keju pemilik setidaknya 4.1% laktosa ini tak cocok untukmu.

6. Camembert

Sama seperti Brie, keju kedua asal Prancis favorit Herworld ini punya tekstur lembut yang membuat hati nyaman saat mengudapnya. Lumer di lidah dan punya hint rasa asin namun milky di tiap gigitan, menjadikan keju dengan tampilan putih di luar kuning muda di dalam ini layak dicinta oleh para pencinta keju. Bisa dimakan bersama segala jenis roti atau crackers, bahkan menurut kami keju ini akan memberi rasa magis saat dimakan bersama dengan beef steak dengan tingkat kematangan medium rare! Ssst, tapi makannya jangan saat sedang fine dining, ya. Karena ini bukan hal yang lumrah dilakukan. Hehehe. Selain itu yang menyenangkannya lagi, kandungan laktosa dalam keju ini pun paling rendah dari semuanya, yaitu hanya 0.0% hingga 1.8%! Bergembiralah kita semua.

7. Gouda

Biasa digunakan untuk membuat camilan seperti cheese stick atau kaastengel, keju asal Belanda yang punya tingkat kekerasan medium ini merupakan salah satu keju paling populer dan paling sering dipakai dalam bisnis kuliner di seluruh dunia. Sedikit pahit, beraroma langu, dan kurang menyenangkan untuk dimakan langsung, keju ini memang baru mengeluarkan rasanya saat diolah bersama bahan-bahan lain. Kue kering jadi lebih wangi dan punya tekstur ‘kriuk’ yang dihasilkan dari parutan Gouda yang telah matang. Menyenangkan sekali untuk dikunyah dan punya rasa asin yang khas yang tak dimiliki oleh keju lain. Kandungan laktosanya pun hanya 0.0% – 2.2%. Aman.

8. Blue

This is not everyone cup of tea. Tak semua orang bisa mengunyah bahkan menelan keju lembek nan berjamur asal Prancis ini. Aromanya yang tajam nan menusuk pun seringkali jadi pertimbangan banyak orang untuk memilihnya sebagai pendamping makanan yang ada di piring. Padahal, sebenarnya keju ini merupakan salah satu keju paling sehat di dunia karena jamur yang membusuk di dalamnya itu merupakan sumber probiotik alami yang dibutuhkan oleh tubuh. Dibuat dari dari kultur jamur Mold Penicillium yang biasanya muncul secara alami dalam proses pembusukan makanan, keju ini hanya mengandung 0.0% – 2.5% laktosa.

9. Provolone

Terakhir, keju Italia bertekstur semihard yang terbuat dari susu sapi ini punya aroma smoky yang halus dan juga eksotis. Oleh karenanya, irisan Provolone yang tipis saja bisa menjadikan rasa roti bakar yang disajikan bersama beef bacon atau smoked beef jadi lebih lezat. Tak heran bahwa keju ini amat populer di kalangan para pembuat pizza. Karena lelehan Provolone di atas pizza atau roti jenis apa pun akan memberikan rasa yang amat nikmat dan tak terlupakan bagi para penggemarnya. Kalau mau coba, buatlah sebuah Grilled Cheese dengan setangkup roti gandum yang telah dioles dengan butter berkualitas tinggi. Maka kamu akan tahu bagaimana enaknya keju dengan kandungan laktosa 0.0% hingga 2.1% ini.